|
MENYIKAPI RENDAHNYA PERTUMBUHAN EKONOMI DAN MENINGKATNYA PENGANGGURAN TAHUN 2006 MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA UNTUK MASA KINI DAN MASA DATANG Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini permasalahan pengangguran merupakan masalah global yang tidak hanya ada pada negara Indonesia, namun terjadi juga pada bangsa-bangsa lain di dunia, termasuk negara-negara maju seperti Jerman, dan Amerika. Rasanya kita tidak lagi merasa terperanjat ketika kita membaca di berbagai media saat ini mengemuka angka-angka fantastis yang melambangkan tingkat pengangguran yang ada di negeri nan kaya ini. Tercatat pada tahun ini, angka pengangguran mencapai sekitar 11 juta pengangguran kentara, dan 40 juta angkatan kerja yang termasuk dalam pengangguran tak kentara. Target pertumbuhan ekonomi tahun mendatang yang diumumkan pemerintah dirasa belum menunjukkan tanda-tanda adanya peluang akan terciptanya banyak lapangan kerja baru dari industri yang sudah ada dan industri baru padahal penduduk yang putus sekolah atau menamatkan pendidikannya terus bertambah dari tahun ke tahun. Target pertumbuhan ekonomi yang “hanya” sekitar 6% ditargetkan akan menciptakan “hanya” kira-kira 3 juta lapangan kerja baru. Banyak faktor yang melatari timbulnya permasalahan pengangguran dan dampak permasalahan ini ke permukaan. Beberapa pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di negara kita yang sejak hampir sepuluh tahun lalu terkena imbas dari krisis ekonomi dan moneter, telah merumahkan jutaan orang karyawan dengan beragam alasan. Situasi politik, penegakan hukum dan sosial yang belum stabil telah mengendurkan iklim investasi di negara kita. Situasi ini diperparah oleh krisis moral bangsa. Kini kata-kata korupsi, kolusi dan nepotisme kian akrab di telinga kita. Himpitan ekonomi dan membaurnya beberapa budaya asing yang negatif ke tengah masyarakat menambah problematika moral. Bersamaan dengan itu, tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang rendah dan perbaikan mutu pendidikan yang tidak merata di beberapa tempat semakin memicu terjadinya problematika lain sebagai imbas dari tingginya angka pengngguran. Pendidikan yang ada saat ini belum menjamin kemajuan pola pikir dan perbaikan moralitas masyarakat. Sebagian masyarakat yang mengenyam pendidikan dengan layak saat ini berpikiran bahwa pendidikan hanya sebatas pengejaran terhadap angka-angka gengsi dalam status sosial, titel, dan ijazah tanpa mengiraukan esensi dari pendidikan itu sendiri. Akhirnya berbagai jalan dihalalkan untuk mencapai prestise tersebut. Hal-hal tersebut akan berimbas pada meningkatnya tingkat kriminalitas dan pelanggaran terhadap norma-norma yang ada di masyarakat. Dalam keadaan seperti ini, para penganggur, fresh graduate, dan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia industri ini diharapkan dapat memutar otak dan membaca berbagai peluang dari perkembangan zaman dan tren pasar yang berkembang. Bantuan modal saat ini bisa diperoleh dengan meminjam dari bank syariah yang bersifat bagi hasil atau berusaha menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah dengan mengembangkan produk-produk yang bisa mengangkat nama daerah dengan mutu yang baik. Para pengusaha baru ini harus memiliki jiwa enterpreneur yang berani mempromosikan produknya kepada calon penanam modal yang prospektif sehingga akhirnya selain memperoleh bantuan investasi, pembinaan langsung dari penanam modal, atau dinas perindustrian dan perdagangan setempat juga bisa didapat. Jika kita memfokuskan terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat, beberapa bidang bisa digarap guna menyediakan lapangan kerja baru. Kebutuhan pokok, arus elektronisasi dan digitalisasi seiring perjalanan waktu tidak dapat kita hindari. Manusia butuh makan, pakaian, hiburan dan perumahan untuk bernaung, merasa aman dan merasa nyaman. Namun, ironisnya beberapa dari kebutuhan tersebut masih kita impor secara penuh padahal kita mampu memproduksinya. Adapun beberapa sudah kita ekspor dalam bentuk bahan mentah, yang setelah dilakukan pengolahan lebih lanjut serta pengemasan yang menarik di negara lain, dipasarkan kembali ke negara kita dalam bentuk produk jadi menyambut peluang konsumerisme dan pasar barang-barang buatan luar negeri. Kendala pemasaran ini sebenarnya dimulai dari kekurang cintaan kita terhadap produk bangsa sendiri. Kita semua bisa beralasan. Mulai dari alasan mutu, layanan purna jual, perbaikan, dan lain-lain yang setelah dikalkulasi akan lebih merugikan dibanding jika kita menggunakan produk luar. Padahal secara kualitas, beberapa produk dalam negeri tidak kalah dengan buatan luar negeri yang bersamaan dengan itu, usaha peningkatan mutu produk dan pelayanan purna jual oleh produsen lokal secara berkesinambungan terus ditingkatkan. Banyak pengusaha mengeluhkan permasalahan tersebut yang tidak hanya terjadi saat pemasaran, namun juga terjadi saat meyakinkan penanam modal untuk berinvestasi pada industri mereka. Sebuah ironi bahwa negeri ini dengan kekayaan alamnya yang melimpah saat ini cenderung menjadi konsumen, produsen bahan mentah dan setengah jadi. Sedangkan pengolahan lebih lanjut untuk meningkatkan nilai ekonomis dan mutu produk di lakukan di luar negeri. Padahal dengan melimpahnya Sumber Daya Manusia yang mampu, kita mampu melakukannya sendiri. Yang kini terjadi adalah para tenaga ahli yang memiliki visi usaha, enterpreneurship dan berpeluang untuk berkembang cukup baik cenderung “dibajak” (atau menawarkan diri untuk “dipasung”) oleh perusahaan-perusahaan besar dan institusi-institusi yang menempatkan mereka di posisi-posisi empuk sehingga menutup ruang kreatifitas dan pemikiran mereka. Akhirnya kita “seolah-olah” kekurangan orang-orang pintar. Pada saat ini, situasi yang berkembang di beberapa daerah, dimana saat perusahaan-perusahaan besar berguguran terkena dampak dari krisis ekonomi, beberapa industri kecil dan menengah yang berbasis kerakyatan -entah dengan mulus, atau terseok-seok mulai “merangkak” naik. Sebagian dari pengusaha kecil dan menengah tersebut tidak berpendidikan tinggi, namun mereka memiliki kepekaan terhadap peluang bisnis yang ada di masyarakat. Mereka merekrut orang-orang cerdas dari kalangan akademis maupun para korban pemutusan hubungan kerja yang memiliki skill dan visi usaha untuk membantu meningkatkan mutu produk dan memperluas jaringan pemasaran mereka. Hal ini sesuai dengan rencana pemerintah untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah yang tersebar di berbagai daerah. Tidak jarang mereka menghadapi berbagai macam kendala, mulai dari permodalan, promosi, distribusi hingga penjualan namun mereka tetap berusaha bertahan karena mereka juga tidak ingin serta merta secara tidak manusiawi langsung merumahkan para karyawannya. Sisi positifnya, paling tidak mereka telah merintis jalan untuk tumbuhnya lapangan kerja dan usaha baru di daerah mereka. Salah satu contoh cara untuk membuka pemikiran tentang peluang usaha adalah dengan pemikiran bahwa “Tiada yang diciptakan-Nya dengan percuma”.Maka saat merasakan di tengah ramainya kerumunan orang atau tenangnya suasana alam di tengah hutan dengan membuka mata, telinga, hati, dan pikiran kita terhadap suasana di sekeliling kita, budaya, adat istiadat, situasi politik dan tren pembangunan, di sanalah sebenarnya peluang bisnis bagi kita. Memanfaatkan bukan berarti menghancurkan. Menciptakan kekhasan dan kualitas tersendiri dalam sebuah produk akan meningkatkan nilai sebuah produk meskipun di pasaran terdapat produk yang memiliki kemiripan. Inovasilah yang akan menaklukkan pasar, bukan kompetisi tidak sehat yang saling menjatuhkan dan akhirnya merugikan konsumen dan perekonomian secara global. Promosi terhadap prosuk-produk lokal harus dimulai dari level edukasi terbawah. Siswa-siswa Sekolah Dasar harus dikenalkan dengan produk asli daerah mereka. Sehingga ketika mereka tumbuh, keluar daerah, dan bersosialisasi dengan orang dari daerah lain atau negara lain, mereka akan berkata dengan bangganya bahwa “Minyak wangi kualitas nomor satu berasal dari daerah saya/negara saya.” dan seterusnya. Sebagai contoh peluang dengan mengamati tren pembangunan adalah kebutuhan terhadap pendidikan dan target pemerintah untuk menuntaskan wajib belajar hingga 12 tahun. Ini adalah peluang bisnis. Dari buku pelajaran, software pembelajaran hingga alat-alat peraga dapat menjadi usaha yang menjanjikan bagi pengusaha lokal. Setiap saat inovasi di bidang pendidikan terus berlangsung. Tentunya produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga yang sesuai dengan mutu dan target pemasaran. Lingkaran bisnis dalam dunia pendidikan ini akan membawa dua manfaat. Selain efek secara ekonomis, efek lain adalah mendukung peningkatan mutu pendidikan yang berimbas pada penciptaan tenaga ahli yang memiliki kompetensi di masa depan. Hal ini juga berlaku pada industri lain yang berefek langsung terhadap perbaikan kualitas hidup masyarakat lain antara lain makanan, elektronika, perumahan dan lain-lain. Seperti lingkaran yang terus berputar, industri yang tumbuh secara tidak langsung diharapkan bisa membentuk tenaga kerja baru yang memiliki kualitas baik secara skill, jasmani dan moral perilaku di masa depan. Dan industri dalam negeri akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya masyarakat. Jika industri usaha kecil dan menengah tumbuh secara merata di seluruh penjuru nusantara dibarengi dengan kolaborasi aktif antara pemerintah dan masyarakat dalam good governance, penegakan hukum, pemerataan penduduk, dan peningkatan kualitas pendidikan, maka pemecahkan problematika pengangguran bukan hanya sekedar impian. Taufiq Damarjati Mahasiswa Pascasarjana Teknologi Industri Kecil dan Menengah, Magister Sistem Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta |